Terapis Tunanetra Bertahan pada Masa Pandemi


Terapis Tunanetra Bertahan pada Masa Pandemi
0
Categories : Berita

JawaPos. com– Banyak sektor terdampak dan terbenam akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Pemerintah sebenarnya tidak tinggal stagnan dengan memberikan bantuan sosial buat masyarakat.

Beberapa membuktikan bertahan. Salah satunya Karjono, 38, terapis tunanetra. Dia tetap menjalani profesinya untuk menafkahi keluarga. Adam yang akrab disapa Jono tersebut sudah berprofesi sebagai tukang pijat sejak 20 tahun lalu.

Jono membuka praktik memencet penyembuhan dan penyegaran di Rusunawa Siwalankerto Selatan lantai 1 No 03 Surabaya. Dia mengaku sudah mempelajari anatomi tubuh, teori pijat, hingga fungsi tubuh manusia, sejak bertahun-tahun lalu.

”Waktu usia 18 tahun saya sekolah di panti rehabilitasi sosial Sebal selama 30 bulan hingga memperoleh ijazah pijat. Saya belajar penuh hal. Mulai dari anatomi tubuh manusia hingga bagaimana teori memijit yang benar. Jadi tidak asal pijat, ” tutur Jono di Senin (16/11).

Tidak hanya memiliki ijazah pijat, Jono juga mempunyai sertifikat profesi sebab Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Jono melayani aneka macam memijit seperti terapi massage , pijat shiatsu , pijat akupresure , dan pijat refleksi.

”Dari berbagai macam macam pijat itu saya kombinasikan. Untuk pijat penyegeran ini bisa untuk relaksasi atau capek-capek. Nah dengan penyembuhan misal keseleo, gangguan perut, dan lain-lain. Titik-titik yang bakal dipijat juga beda, ” cakap Jono.

Namun, selama pandemi Covid-19, Jono mengaku pelanggannya berkurang. Sebelummya, dalam sehari mampu melayani 6 orang. Kini pada sehari dia hanya melayani 1 orang. Bahkan sering tidak tersedia pelanggan yang datang.

”Orang-orang ini masih takut dengan kondisi saat ini. Sejak November sudah lumayan, seminggu bisa sanggup tiga orang, ” ujar Jono, bapak 5 anak itu.

Jono mematok harga dengan cukup variatif. Untuk pijat selama 15 menit, pelanggan bisa merogoh kocek sebesar Rp 30 ribu. ”Kalau 30 menit Rp 50 ribu, 1 jam Rp 80 ribu, dan 2 jam Rp 150 ribu. Tapi kalau untuk warga sini (rusunawa) saya nggak ngasih harga, karena mereka saya anggap keluarga sendiri, di kasih sungguh saya terima, ” tutur Jono.

Jono berharap, asosiasi bisa memanjakan diri dengan datang ke terapi pijat. ”Saya juga berharap pemerintah dapat memberikan medan bagi teman-teman disabilitas ini untuk menyalurkan bakatnya selain memijat, ” kata Jono.

Saksikan video menarik berikut ini: