Pemkot Surabay Pantau Pemenuhan Indikator Penelaahan Tatap Muka


Pemkot Surabay Pantau Pemenuhan Indikator Penelaahan Tatap Muka
0
Categories : Berita

JawaPos. com – Pemkot Surabaya mengklaim penanganan Covid-19 semakin baik. Persebaran virus korona macam baru itu dapat dibendung. Kondisi tersebut membuat pemkot kian aktif dan terus berupaya menyiapkan awal kembali pembelajaran tatap muka.

Beberapa hari lalu jawatan pendidikan (dispendik) turun ke madrasah untuk memelototi persyaratan yang wajib dipenuhi lembaga pendidikan tersebut. Total, ada sepuluh sekolah yang ditelaah. Tim dispendik turun untuk menelaah indikator yang harus dipenuhi sekolah. Ada lebih dari 100 indikator. Mulai kelengkapan fasilitas, kesiapan infrastruktur, hingga sistem pembelajaran.

Kasubbag Penyusunan Program dan Pemberitahuan Dinas Pendidikan (Dispendik) Triaji Nugroho menjelaskan, pihaknya turun untuk melayani cek dan ricek.

Verifikasi faktual itu bertujuan memelototi pemenuhan indikator. ”Apakah sudah serasi dengan laporan yang dilampirkan, ” katanya.

Petugas langsung melakukan evaluasi. Misalnya, kelengkapan sarana-prasarana (sarpras). Dispendik melihat ketersediaan wastafel, bilik sterilisasi, serta hand sanitizer. Di dalam kelas, dispendik tahu aturan jaga jarak. Salah satunya, kapasitas maksimal kelas ketika pembelajaran tatap muka diadakan. Yang tidak kalah penting adalah ventilasi. Di setiap kelas harus memiliki minimal 10 persen ventilasi. Tujuannya, sirkulasi suasana tidak terhambat.

Kesiapan guru dan siswa juga ditelaah. Setiap siswa dan guru kudu memakai masker dan face shield. Selain itu, guru dilarang berkeliling. Materi cukup disampaikan di ajaran kelas. Bahkan, tim menanyakan teknis siswa ketika hendak buang cairan kecil hingga selesai sekolah. Serasi dengan aturan, ketika ingin pergi ke kamar kecil, siswa harus didampingi guru. Ketika pembelajaran sudah, orang tua harus segera menjemput.

Teknis pembelajaran di bagian juga sudah sesuai. Physical distancing dipenuhi. Minimal jarak antarsiswa 1, 5 meter. ”Bangku siswa diberi jarak, ” ungkapnya.

Hanya satu yang menjadi kenistaan. Yakni, imbauan dari sekolah. Bentuknya berupa peringatan bahaya korona. Diharapkan, seluruh siswa dan guru perdata dan tetap mematuhi prokes. Patuh Aji, sekolah sudah menyusun imbauan. Namun, bentuknya tidak sesuai dengan harapan dispendik. ”Kebanyakan imbauan nonformal, ” jelasnya.

Dispendik meminta imbauan itu formal. Contohnya, dalam bentuk poster dan ditempel di setiap sudut ruang posisi. Imbauan tersebut menjadi pengingat mematikan korona.

Aji menuturkan, selain sekolah negeri, pihaknya menodong sekolah swasta bersiap memenuhi indikator sekolah tatap muka. Dia meminta sekolah yang belum memenuhi persyaratan segera melapor. Dengan begitu, dispendik bisa segera melakukan telaah. ”Yang belum lengkap segera dilengkapi, ” tuturnya.

Sementara tersebut, Pembina Pengurus Daerah Persakmi Jatim Estiningtyas Nugraheni menyatakan bahwa imbauan tertulis sangat dibutuhkan sekolah yang hendak membuka kembali pembelajaran. ”Kelengkapan itu harus dipenuhi, ” tegasnya.

Menurut dia, imbauan bukan sekadar tulisan kertas. Tetapi harus sarat makna. ”Bisa membentuk awareness (kesadaran), ” tuturnya.

BANYAK SYARAT BALIK KE SEKOLAH

Langkah Pemkot Menyiapkan Penelaahan Tatap Muka

  • Swab test bagi instruktur SD-SMP. Sampai saat ini, telah ada 12 ribu guru dengan mengikuti uji usap.
  • Pemkot berencana melakukan uji belai untuk siswa.
  • Mencermati pemenuhan sarpras prokes di madrasah. Mulai pemenuhan alat cuci, kamar sterilisasi, hand sanitizer, hingga bagian ventilasi di sekolah.
  • Mengatur sistem pengajaran di kelas. Guru dan siswa memakai masker dan face shield. Jarak antarsiswa diatur. Setiap siswa tidak diperbolehkan untuk meminjam alat tulis.
  • Mengatur jam pelajaran. Maksimal tiga jam tiap sesi. Anak yang hendak ke kamar kecil harus diantar guru. Ketika siswa pulang, langsung dijemput orang usang. Tidak ada istirahat keluar status.

Saksikan video menarik berikut ini: