NISTA: Pemiskinan Terdakwa Jiwasraya Beri Buntut Jera Bagi Koruptor


NISTA: Pemiskinan Terdakwa Jiwasraya Beri Buntut Jera Bagi Koruptor
0
Categories : Berita

JawaPos. com – Setidaknya enam terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya telah divonis majelis hakim PN Jakarta Tengah dengan hukuman seumur hidup. Perut di antaranya adalah Dirut PT Hanson International Benny Tjokrosaputro serta Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat dijerat dengan bab pencucian uang sehingga harus mengganti kerugian negara lebih dari Rp16 triliun.

“Vonis berat ini jadi efek jera untuk para koruptor. Saya selaku pelapor mengapresiasi hakim dan kejaksaan dengan menegakan keadilan dan puas dengan hukuman seumur hidup ini, ” kata koordinator Masyarakan Anti-Korupsi Nusantara (MAKI) Boyamin Saiman dalam terbit yang diterima wartawan, Rabu (28/10).

Vonis berat itu kata Boyamin sejalan dengan rasa keadilan yang diharapkan 2, 3 juta nasabah Jiwasraya karena uang mereka tak kunjung bisa dicairkan. Hakim pun melihat pemberatan bagi para terdakwa adalah banyaknya para-para nasabah yang menjaminkan dana hari tua, biaya pendidikan anak & kebutuhan berobat mereka.

“Karena gagal bayar, banyak yang kesulitan membiayai anaknya sekolah, karakter tua tidak bisa menikmati keadaan tuanya, biaya untuk berobat & sebagainya. Ini siapa tahu pertimbangan hakim, ” kata Boyamin.

Disisi lain adalah munculnya pengaruh yang memberatkan keuangan negara dalam kasus ini, yang mana negara harus memperiapkan dana Rp22 triliun untuk penyelamatan Jiwasraya. Efek domino lain adalah hilangnya kepercayaan terbuka di sektor industri keuangan.

“Jadi sudah benar itu, hakim menyatakan kejahatan ini serupa dibebankan uang pengganti karena negeri nombok untuk penyelamatan nasabah & mengembalikan kepercayaan publik, ” ungkapnya.

Pasca putusan tersebut, Boyamin mendorong agar Kejaksaan Utama terus mengejar aset yang harus disitas dan mengembangkan kasus itu ke pihak-pihak lain.   Tidak hanya itu, Kejagung dan elok hakim harus segera menyelesaikan 13 tersangka dari pihak manajer investasi dan satu orang dari Dominasi Jasa Keuangan (OJK) dengan kedudukan Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Simpanan II A, Fakhri Hilmi.

Diketahui, Senin 26 Oktober, Majelis Hakim PN Jakarta Pusat memutus Bentjok dengan hukuman sebaya hidup dan uang pengganti kerugian negara Rp 6, 078 triliun. Sedangkan Heru harus mengganti kekayaan Rp 10 triliun dan balasan kurungan badan yang serupa.

Sebelumnya, pakar hukum Acara Pidana Abdul Fickar Hadjar mengatakan bila ganti rugi itu adalah wujud kewajiban terdakwa yang menjadi hutang untuk dilunasi di masa kelak.

“Penjara badan serta denda itu sifatnya pidana sedangkan ganti rugi itu sifatnya perdata. Maka, kalau tidak bisa di bayar dan terdakwa mati oleh sebab itu itu akan jadi tanggung tanggungan ahli waris untuk mengganti. Rencana hukum kita ganti rugi tersebut adalah hutang, selama belum beku, ” kata Abdul.

Abdul menjelaskan lebih jauh, ganti rugi yang fantastis itu ialah penambahan hukuman yang setimpal. Dengan ganti rugi yang bersifat perdata, maka perampasan harta tidak hanya perampasan harta yang ada era ini, melainkan potensi harta yang akan ada di masa yang akan datang dan berimplikasi di kewajiban ahli waris untuk melunasinya.

Sementara itu, empat terdakwa lainnya telah berstatus benduan adalah Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, mantan petinggi PT Asuransi Jiwasraya, Direktur Sari 2008-2018 Hendrisman Rahim, Direktur Keuangan 2008-2018 Hary Prasetyo, serta Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Syahmirwan dengan hukuman badan seumur hidup dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan. ‎