Jatuh Bergincu


Jatuh Bergincu
0
Categories : Berita

Jari-jari bantat tersebut memoleskan bibirku dengan gincu. Pipiku disapunya dengan perona merah. Cocok kancing emas dijepitkan ke telingaku. Sekujur tubuhku lalu disemprotnya dengan wewangian murah. Kemarin semua buluku dibabat olehnya, terutama di wilayah selangkangan.

—

KATANYA, biar lelaki semakin bernafsu. Serupa tak risi saat menggagahiku. Diperiksanya rantai di tangan dan kakiku. Sudah terkunci semuanya. Aku biar bersiap-siap. Melayani pria hidung cela yang mengidap kelainan.

Mereka menamaiku Leoni. Umurku sepuluh tahun. Yang mendandaniku tadi induk semang, mucikariku. Orang-orang memanggilnya Mak Sum. Perawakannya pendek, perutnya buntal.

Mak Sum menemukanku pada lahan bekas kebakaran hutan pada Kalimantan. Saat itu aku sedang anak-anak dan sendirian. Wanita tua itu lalu memungutku dan merawatku sejak itu.

Ibu Sum tinggal dan berjualan terbengkalai di gubuk dekat kebun kelapa sawit. Para pekerja kebun sering datang untuk makan atau mengaso di gubuknya. Tadinya Mak Sum bekerja seorang diri, tapi kemudian ia dibantu Ayu, gadis yang didatangkannya dari Pulau Jawa.

Sejak kehadiran Ayu, pondok Mak Sum semakin ramai. Molek tak hanya melayani pembeli terbengkalai. Ia juga bekerja di dalam gubuk menemani laki-laki. Pernah kulihat pantatnya bergoyang-goyang bersama pelanggan had keringatan.

Lama-kelamaan berdatangan gadis-gadis lainnya. Ada Siska, Lia, entah siapa lagi. Gubuk Ibu Sum tak cukup melayani pelanggan. Dibelinya tanah di sebelah gubuknya pakai uang rentenir, lalu dibangunnya rumah semen beratap genting. Rumah Mak Sum makin terkenal.

Seiring membesarnya bisnis Ibu Sum, tubuhku juga demikian. Payudaraku bertumbuh, siklus berdarah datang. Tanda lelaki mulai jelalatan. Pernah tersedia yang meremas bokongku. Kata Ibu Sum, itu karena aku terlihat spesial. Berbeda.

Suatu sore, Mak Sum menerima tamu seorang lelaki. Perawakannya kurus, kotor, dengan gigi berkerak sehitam tempat tak pernah disikat. Mak Sum berkata kepadaku, ’’Ia bayar langka untuk berkeringat denganmu. ’’ Tawanya pecah, lalu meninggalkan kami berdua.

Orang itu mendekatiku. Jakunnya naik turun, bibirnya dibasahi ludah. Dadaku dibelainya, kemudian tangannya meremas setiap gundukan dagingku. Celananya yang penuh sesak diturunkan. Isinya disodok-sodokkan ke selangkanganku. Instingku menyuarakan alarm bahaya, spontan kugigit telinganya dan menendang perutnya sekuat tenaga.

Pria itu terpelanting, menjerit-jerit. Mak Sum datang tergopoh-gopoh. Matanya hampir loncat ke asing saat menemukan pelanggannya bersimbah darah, sementara selembar daging cokelat kenyal berada di mulutku. Muka Mak Sum merah padam. Diambilnya semak, lalu diayunkan kuat-kuat ke tubuhku terus-menerus tanpa ampun.

Malamnya, sejumlah pria datang menyeret rantai besi. Aku melawan zaman mereka hendak memasangkannya padaku. Namun, sebuah hantaman keras mendarat di bagian tengkuk dan dalam sekapur sirih duniaku gelap gulita.

*

Aku terjaga oleh suara makian Mak Sum. Kudapati kedua tangan dan kakiku telah terpasung. Bulu-buluku habis dicukurnya sampai gundul. Sekujur tubuhku perih bagai habis tergerus aspal jalanan. Rasa nyeri juga menyerang kemaluanku seperti habis diobok-obok. Kulihat pembawaan menetes dari pinggir lubangnya.

’’Kau akan terbiasa. Gadis perawan juga begitu awalnya. Mulai besok kau akan bekerja seolah-olah Ayu. Kuhabisi kau kalau melayani! ’’ sebilah parang besar diperlihatkan ke wajahku.

Mulai detik itu, aku menjadi bani adam. Aku didandaninya. Aku juga diajari cara merayu pria. Kelebihanku sebagai kerabat terdekat manusia membuatku dapat mengimitasi tindakan dan beradaptasi dengan cepat.

Aku pula menjadi primadona. Para lelaki hancur di rumah bordil Mak Sum tergila-gila. Pria-pria itu bilang, beta adalah fantasi mereka. Bercinta denganku memberikan kenikmatan baru, mendobrak batas moral yang dianggap tabu. Tak peduli jika dianggap sakit nyawa atau tertular penyakit berbahaya.

Mak Sum sangat bahagia. Aku menjadi pencetak uang terbesarnya. Ia menyayangiku lebih dari gadis-gadis lain di rumah bordilnya. Beberapa kali kutangkap pancaran iri di mata Ayu dan teman-temannya.

Sungguh lucu, aku betul-betul tertawa. Pesona mereka dikalahkan seekor primata. Jika semudah ini menguasai manusia, bangsaku tak perlu berevolusi. Cukup mengangkang dan memainkan nafsu mereka yang seperti binatang.

Orang-orang bilang manusia produk paling sempurna. Akal dan watak mereka membedakan dari makhluk yang lain. Itu semua omong kosong. Mereka semua menjijikkan.

Bakal tetapi, pendapatku berubah saat bersemuka pemuda yang satu ini. Ia datang di suatu pagi. Muda itu mendekatiku dengan hati-hati & memperkenalkan diri. ’’Namaku Adrian. Aku takkan menyakitimu, ’’ ujarnya halus. Ia lalu berkata kepada Mak Sum. ’’Bisa tolong tinggalkan kami? Akan kuberikan uang lebih belakang. ’’

Mak Sum tersenyum iblis. Otaknya membayangkan jumlah uang yang akan diterimanya. Sebelum pergi, ia membisikkanku, ’’Bikin tempat ketagihan biar datang terus ke sini. ’’

Lalu, seperti biasa, kurentangkan kaki menunjukkan aset wanita. Namun, pemuda itu tak melorotkan celananya. Ia cuma memandangku sedih. Dirapatkannya kakiku serupa berkata, ’’Mengapa kau sampai sejenis ini. Mereka sangat biadab. ’’

Tangannya lalu memeriksa ceroboh, telinga, serta bagian-bagian tubuhku dengan korengan karena luka-luka dan gigitan serangga. Setelah selesai, dipanggilnya Ibu Sum. Tangannya menyerahkan uang dan berpamitan. Mak Sum terheran-heran.

’’Kok, cepat sekali? ’’

’’Besok saya balik. ’’

Mak Sum tersenyum menyeringai. ’’Baiklah. Sudah dibuat ketagihan rupanya. ’’

Pemuda itu melengos, lalu ditinggalkannya Mak Sum dengan muka masam.

*

Keesokan paginya, pemuda itu sampai kembali. Kali ini tangannya menenteng sekeranjang buah-buahan. Mak Sum memeriksanya. ’’Aku tak yakin ini dimakannya. Kegemarannya lauk dan nasi bagaikan kita, ’’ kata Mak Sum bangga, lalu meninggalkan kami berdua.

Pemuda itu menentang punggung Mak Sum dengan sepasang mata menyala-nyala. Namun, saat melihatku, tatapannya berubah. ’’Selamat pagi, Gadis Leoni. Apa kabarmu hari itu? ’’ sapanya ceria, lalu menjemput tabung kecil dari sakunya. ’’Ini salep untuk mengobati koreng-korengmu. Rasanya agak perih, tapi sangat manjur. Maukah Nona Leoni memercayaiku? ’’

Kupamerkan sederet gigi besarku sebagai jawaban. Ia pula tertawa. Usai mengoleskan salep, ditunjukkannya buah-buahan yang dibawanya. ’’Kau harus mencobanya. Teman-temanmu menyukainya. ’’ Disuapinya aku dengan buah itu. Kulahap dengan serabutan.

’’Sudah kuduga kau akan suka. Inilah makananmu seharusnya, ’’ katanya suka.

Begitulah di hari-hari berikutnya. Adrian datang, namun tak meniduriku. Uangnya terbuang hanya untuk mengajakku berbicara sambil menikmati buah-buahan yang dibawanya.

Pada hari kesepuluh, Adrian muncul beriringan serombongan orang yang memanggul bedil. Ia melepaskanku dari belenggu rantai. Mak Sum histeris. Beberapa orang menahannya.

’’Jangan bimbang. Kau akan tinggal di rumah baru bersama teman-temanmu, ’’ sirih Adrian menenangkanku.

Digendongnya aku keluar. Di luar rumah, puluhan orang bersenjata dan berseragam loreng membentuk barisan. Mereka menahan orang-orang kampung yang bereaksi macam kerasukan setan, meminta agar hamba dirantai ke tempat semula. Sebagian dari mereka mengacungkan parang ke udara. Kukenali wajah-wajah itu. Itu adalah pelanggan tetapku.

Adrian memasukkanku ke dalam mobil. Dari kejauhan kulihat Mak Sum meronta-ronta persis orang gila. Dia tak rela aku dirampas sejenis saja. Bayang-bayang rumah bordil Mak Sum pun perlahan menghilang lantaran pandanganku.

*

Berbulan-bulan berlalu sejak peristiwa penyelamatanku. Tak kutemukan lagi muka bulat jahat yang sibuk menghitung uang hasil menjual diriku. Tidak ada lagi gincu merah di bibirku. Tak ada lagi tubuh-tubuh yang menindihku. Tak ada lagi rantai yang membelenggu. Dan bulu-buluku dibiarkan tumbuh menjadi pakaianku.

Aku juga tak diberi sepiring lauk dan nasi. Tambahan pula disuruh ke pohon cari santap sendiri. Namun, aku tak terang memanjat dan berayun. Tangan serta kakiku lumpuh bertahun-tahun. Rantai besi telah membuatnya mati suri. Hamba hanya tahu membuka kedua menguasai. Jadi, sepanjang hari aku menduduki sampai manusia datang membawakan makanan.

Adrian bilang, di sinilah tempatku, bersama hewan-hewan kepala keluarga. Namun, aku tak mampu menyatu dan merasa berbeda. Awak juga tak suka laki-laki bangsaku sendiri. Pernah seekor pejantan bujang mendekati, namun aku tak terseret sama sekali. Di mataku rupanya jelek, tak tampan seperti pribadi.

Adrian melatihku biar jati diriku kembali. Namun, kali ini sulit bagiku beradaptasi. Rumah bordil Mak Sum terlalu periode menjadi habitatku. Kehidupan di kian keburu menyatu dengan darah serta dagingku.

Dari waktu ke waktu, semangatku semakin lesu. Tubuhku menyusut menyerupai seonggok indra peraba yang membalut tulang-tulang lesu. Pohon-pohon rimbun dan buah-buah ranum tidak menggugah selera makanku. Aku hanya ingin berbaring membisu. Gambaran dunia mulai meredup di mataku dengan sayu.

Adrian menatapku pilu. ’’Seharusnya aku lebih cepat membawamu keluar dari situ. Seharusnya aku yang dulu menemukanmu, ’’ katanya berkali-kali dan menyesali diri.

Hingga suatu cepat, kurasakan sudah waktunya untuk lari. Adrian menggenggam erat tanganku, menciumnya, lalu menempelkan ke pipinya yang basah. Ah, tak seharusnya dia menangis. Ia adalah ciptaan memutar sempurna itu. Satu-satunya manusia yang menunjukkan adab berbeda dari makhluk lainnya. Kupandangi lautan teduh di bola matanya untuk kali final. Tak lama, kelopak mataku mendarat dan menutup wajah Adrian selalu. (*)


*Mengenang orang utan korban eksploitasi erotis manusia


*) Penulis adalah praktisi komunikasi. Keluaran Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Saksikan video menarik berikut ini: