Buah Hari Pahlawan: Merajut Kepahlawanan Rumpun Milenial


Buah Hari Pahlawan: Merajut Kepahlawanan Rumpun Milenial
0
Categories : Berita

’’…Memang perintah bukan seluruhnya berada di bahu kita, namun kita tidak dibenarkan bersikap abstain terhadapnya. ’’ (Erich Fromm, The Revolution of Hope, 1968)

—

Selamat. Jawa Congkong telah menerima WOW Brand Award 2020. Pastinya tidak lepas dari gaya berita serta sentuhan tadbir media yang milenial. Selansiran itu mengingatkan saya terhadap pidato Megawati Soekarnoputri pada acara peresmian patung Bung Karno di Jogjakarta (28/10) yang menyentil ’’milenial jangan dimanja’’, bahkan dijustifikasi ’’sumbangsih kaum milenial untuk bangsa belum terlihat’’.

Sebuah pernyataan kontroversial yang dapat melahirkan reaksi balik ’’yang sepuh tak mau beringsut dibanding kemapanan’’. Tulisan ini tidak hendak memasuki ruang polemik ’’pemanjaan milenial’’ karena kriteria ’’dimanja’’ dan patokan ’’sumbangsih untuk bangsa’’ masih teramat subjektif. Padahal, terdapat keniscayaan bahwa pandemi Covid-19 bertabur sikap-sikap keprajuritan ekonomi, ekologi, dan sosial tingkatan milenial yang spektakuler.

Zamannya Milenial

Mata rantai sejarah umat manusia membuktikan bahwa di di setiap era ada serumpun inovasi sebagai penanda zamannya. Baca saja karya-karya Yuval Noah Harari, Sapiens (2011) maupun Homo Deus (2015). Sapiens merekam jejak asal mula bani adam dan Homo Deus menuangkan arah masa depannya. Demikian pula beribu referensi historis manusia, termasuk susunan Hendrik Willem van Loon, The Story of Mankind (2014): ’’sejarah adalah sebuah menara pengalaman yang besar’’.

Untuk itu, merupakan suatu kebajikan apabila kita memberikan apresiasi kepada setiap sejarah generasi guna membangkitkan kemajuan bangsa Indonesia menuju seratus tahun heroisme, 2045.

Serat-serat energetik kepahlawanan kawula muda pada penjatahan zaman harus dirajut menjadi kekuatan kolektif, bukan dirapuhkan penuh sinisme. Pembagian waktu ala generation theory menuntun publik mempersiapkan agenda luhur ke arah mana perjalanan bani ini ditambatkan. Setiap generasi menjadi fondasi beranjaknya generasi berikutnya. Apakah NKRI di 2045 mampu melahirkan gerakan kepahlawanan seperti 10 November 1945, ataukah sekadar kerumunan yang menyaksikan membanjirnya tenaga kerja asing atau barisan penonton drama keserakahan eksploitasi SDA, sangatlah ditentukan sebab kualitas milenialnya.

Kaum milenial yang berselancar di generasi alfa (2011–2025) merupakan kurun tinggi generasi Z (1995–2010), suatu generasi yang beratribut i-generation. Generasi Z adalah bibit sah generasi Y (1981–1994) yang melanjutkan generasi X (1965–1980). Generasi X merupakan bani generasi baby boomer usai Perang Dunia II (1946–1964).

Generasi milenial secara tematik betul menguasai teknologi dengan jaringan yang multitasking. Inilah wahana generasi digital yang serbagadget, yang vitur & akses informasinya tidak terkendala. Negeri milenial ini sungguh tak berhad melalui support teknologi internet yang dikendalikan cukup dari kelincahan jemari sambil melirik poros kosmologi.

Milenial yang Pancasilais

Secara ideologis, milenial mempunyai daya ledak kreativitas yang idealnya dapat digunakan untuk membangun kepahlawanan berdasar Pancasila. Teknologi adalah instrumen yang harus difungsikan untuk mengimplementasikan nilai luhur marga.

Para milenial diproyeksi berkeunggulan nanoteknologi yang berkarakter Bhinneka Tunggal Ika serta dirancang sejak sekarang meneguhkan ideologi Pancasila menjelma nilai aksi, bukan fiksi. Hadirkanlah milenial yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial. Tali jiwa ini wajib dirangkai dalam jalinan rumah besar kebangsaan milenial, dengan kini acap kali menyuarakan tindakan go green tanpa kenal jeda.

Apa yang dikerjakan mereka di pedalaman Nusantara bisa ditengok masyarakat internasional. Saya optimistis bahwa orientasi ekonomi, sosial, serta ekologis bangsa ini esok keadaan dikonstruksi sangat berdaya saing, bermagma sinergisitas, dan kolaboratif. Tanda-tanda periode itu telah ada di rumpun milenial yang terus menaburkan baka sikap kepahlawanan sesuai genderang kreativitasnya.

Lihatlah jejak filantropi milenial untuk berkontribusi dalam mengatasi pandemi, kesetiakawanan sosial membantu objek bencana alam, keterpanggilan bertani, berkebun, menjadi nelayan, dan aksi pembelaan. Cermatilah pengelolaan desa-desa wisata dengan diberitakan Jawa Pos selama terlanjur bersama pekan terakhir Oktober 2020 lalu. Kemajuan pariwisata pedesaan tidak luput dari peran besar trah milenial. Mereka berjibaku memberdayakan bangsa desanya dengan penuh totalitas. Tabiat kepeloporan pemuda milenial sedang mekar, janganlah diribeti. Kemampuan manajerial teknologi tepat guna dalam mengampanyekan produk-produknya menunjukkan peran dirinya. Di sinilah dibutuhkan orang tua yang sedia ngayomi, bukan menjadikan oposan.

Teriakan apa pun akan disimak milenial dan ’’cibiran’’ sang tokoh dengan cepat dapat diakses untuk membangkitkan tindakan yang kadang-kadang tidak dapat diduga eskalasinya. Status sekarang ini sejatinya kawah candradimuka untuk melahirkan pahlawan baru famili milenial.

Apa yang terjadi sewaktu pagebluk dengan memanifestasikan cita rasa kuliner yang tumbuh subur serta wisata desa dengan terhelat semarak adalah peristiwa kepahlawanan kaum milenial yang mengagumkan. Generasi milenial yang tampil menyebarkan embrio inovasinya jauh lebih dominan daripada yang lontang-lantung. Maka, khalayak ramai jangan disuguhi narasi mendiskreditkan milenial.

Bobot kepahlawanan seratus tahun NKRI nanti ditentukan penyikapan kita sekarang ini. Generasi yang superkreatif mengikuti bahasa Kerry Patterson sedang memuncaki era generasi influencer atau generasi sang inovator di dalam ukuran Steve Jobs. Kepahlawanan milenial menanggungkan lahirnya generasi the new inovators, pahlawan yang tengah dipersiapkan.

Inilah pahatan yang tersedia untuk memahami posisi kesejarahan. Seperti diajarkan dalam karya mulia Seni Perang Sun Zi (abad ke-6 SM), seorang leader kudu mengantisipasi terjadinya perubahan dan mempunyai kemampuan menyesuaikan diri. Renungkan jua ungkapan Erich Fromm di awal tulisan.   (*)


*) Suparto Wijoyo, Wakil direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga