Asuh Nini Thowok: Serbasulit saat Pandemi, Terbantu Job Daring


Asuh Nini Thowok: Serbasulit saat Pandemi, Terbantu Job Daring
0
Categories : Berita

Selama pandemi, kegiatan dari berbagai garis terdampak. Itu pula yang dialami seniman. Kepada Jawa Pos , Didik Nini Thowok menceritakan pengalamannya bertahan dan tetap berkarya di tengah pandemi.

—

Bagaimana kabar Anda sebagai seniman selama pandemi?

Sama, sama sulitnya. Karena beta kan seniman pertunjukan dan bukan pegawai negeri. Hasilnya didapatkan dari show. Dengan adanya pandemi serta nggak ada show, otomatis nggak ada pemasukan sama sekali. Makin, karyawan saya sudah dirumahkan.

Seperti apa kesulitannya dulu saat awal pandemi?

Saya minta bantuan ke teman-teman dan mereka penuh membantu. Teman-teman memiliki relasi cukong dari Amerika, Jepang, dan Australia. Banyak juga yang membantu kemarin. Saya terus terang ke itu bahwa saya kesulitan uang serta mereka membantu. Meski, kalau dipikir, mereka juga berada dalam status sulit. Kepeduliannya mungkin karena pertemanan.

Seperti apa kegiatan sehari-hari dan adaptasinya secara kenormalan baru?

Ini sekarang mulai banyak daring. Waktu April, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud memberikan program daring selama enam paket. Lalu, ada webinar, minta saya mengisi sebagai narasumber. Tersebut yang membantu kita sehingga mampu ada pemasukan. Lalu, ada rencana lagi dari Dinas Kebudayaan Jogja. Itu dokumentasi maestro, PKN (Pekan Kebudayaan Nasional) dari Kemendikbud pula, ditunjuk sebagai salah seorang koreografer.

Saat ini kegiatannya berangsur-angsur makin banyak teristimewa?

Iya, karena mungkin ini menjelang tutup tarikh dan ada banyak anggaran dengan harus diserap. Jadinya banyak sekali seniman yang mengadakan proyek daring. Mudah-mudahan setelah ini selesai ya dan masih ada proyek teristimewa. Kalau nggak, ya nggak terang.

Bagaimana masa kondisi ini masih berlanjut untuk para seniman?

Saya tidak bisa memprediksi ya, tapi mau tidak mau kan kita harus kreatif. Seperti beta, yayasan mengaktifkan lagi YouTube beta. Saya punya YouTube channel semenjak 2008 kalau nggak salah & baru aktif sekarang. Zaman tersebut kan belum kepikiran bahwa YouTube itu bisa menghasilkan. Jadi, yang penting untuk promosi, meng-upload video ke YouTube, dan menyimpan datanya ke sana. Sekarang YouTube malah bisa dimonetisasi dan menghasilkan.

Sebagai seniman tari, apa arti koreografi bagi Pak Didik?

Koreografi ini kan mengangkat nama hamba sehingga sangat penting, menjadi bagian dalam kehidupan saya. Saya mendapatkan gelar (Nini Thowok) itu membentuk dari koreografi itu. Itu tidak karya saya lho, melainkan karya Mbak Bekti Budi Hastuti.

Adakah sosok tutor atau maestro tari yang secara khusus menginspirasi Pak Didik?

Secara khusus nggak ada. Karena saya belajar ke banyak maestro itu untuk pengayaan ilmu. Jadi, saya tidak sudah fanatik dengan satu guru. Semakin menjamur guru, wawasan kita makin besar.

Momen yang paling berkesan dan dirindukan dibanding dunia tari?

Berkolaborasi dengan teman-teman dari penuh negara. Teman Tiongkok, Taiwan, Hongkong, India, Thailand, dan Kamboja. Sejak 1994, saya berkolaborasi di Jepang. Itu kan unik sekali, lupa toh. Nah, sekarang situasi begini. Nggak tahu kapan bisa bertemu lagi. Rasanya gimana gitu.

Pesan-pesan untuk sesama seniman dan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan seniman pada masa pandemi?

Kalau dibanding pemerintah pusat, action-nya sudah lulus bagus. Tapi, saya nggak cakap kalau daerah kan punya kebijaksanaan masing-masing. Untuk seniman, jangan selesai asa. Jangan malu dan status kalau harus cari sampingan, buka warung atau angkringan. Ya, jalani aja. Saya pun nggak status karena pernah punya angkringan pra pandemi. Tapi, sekarang memang beta nggak punya angkringan karena pindah rumah.

Saksikan video menarik berikut ini: